Selasa, 21 Desember 2010

new poster :)






IKUTI KONTESNYA! RAIH HADIAHNYA!


first winner 
Lomo diana F+
2nd winner
Lomo Holga k200nm
3nd winner
Lomo Actionsampler




1st
      11208diana_f_camera05.jpg
  
2nd
       


3th

   











ps: ajak temen2 kamu juga yaaa :D

Kamis, 02 Desember 2010

Senin, 29 November 2010

ikutan yaaaa workshop kamera lubang jarum

Dalam rangka Lustrum Himbio Unpad yang ke-10, kami selaku panitia bermaksud mengadakan workshop 'KAMERA LUBANG JARUM'


ada yg udah tau apa itu kamera lubang jarum ??
atau belom tau ?
kalo belom baca deh blog kita :))
trus ikutan deh workshop nya . tar bisa bikin kamera sendiri lohhh .


workshop akan di adakan pada tanggal 5 FEBRUARI 2011 nanti


further info tengok trus blog kita yaaaaa !! :))

Minggu, 28 November 2010

Kamera Lubang Jarum - Ray Bachtiar

Ray Bachtiar DradjatRay Bachtiar Dradjat. Pernah mendengar nama itu? Atau mungkin kamera lubang jarum. Merasa familiar dengan teknik fotografi itu? Bagi kamu yang memang pencinta fotografi pasti pernah mendengar namanya, atau malah mengenali sosoknya dengan dekat. Ray Bachtiar memang salah satu fotografer emas yang dimiliki Indonesia. Sudut pandang dan kreatifitasnya dalam mengeksplor dunia fotografi patut diacungi jempol. Oleh karena itu tak jarang banyak pihak yang mengundangnya untuk berbagi ilmu tentang fotografi, khususnya mengenai kamera lubang jarum, seperti halnya yang akan kami lakukan dalam rangka Workshop Kamera Lubang Jarum Bersama Himbio Unpad bulan Febuari 2011.


KAMERA LUBANG JARUM (KLJ) adalah kamera yang bisa dibuat dari kaleng atau dus yang dilubangi sebatang jarum yang di Indonesia ditemukan kembali oleh fotografer Ray Bachtiar Dradjat dan pada tanggal 17 Agustus 2002 mendirikan KLJI, yaitu perkumpulan pemain KLJ yang hingga kini sudah tersebar di lebih 10 kota besar Indonesia. Prestasi yang diraih hingga kini antara lain: dijadikan pelajaran dasar fotografi di Media Rekam ISI Jogja dan institusi lainnya, melahirkan instruktur-instruktur tangguh, hingga mencetak Sarjana KLJ. Meski KLJ bukan alat yang sempurna, namun terbukti bisa mengajak kita untuk berada dalam suatu ruang yang cukup luas untuk olah pikir, olah rasa dan olah fisik. KLJ menawarkan pemanjaan idealisme yang luarbiasa. Maka sangat pantas jika KLJ digunakan sebagai kendaraan untuk “pendidikan” dan juga “seni”.

SEJARAH:
Teknologi fotografi bermula dari keinginan manusia yang nyatanya memang menjadi tuntutan kebutuhan untuk bisa merekam gambar sepersis mungkin. Maka digunakanlah kotak penangkap bayangan gambar, sebuah alat yang mulanya untuk meneliti konstelasi bintang-bintang secara tepat yang dipatenkan seorang ahli perbintangan, Gemma Frisius, tahun 1554. Namun cikal bakalnya sudah dimulai oleh penulis Cina, Moti, pada abad ke-5 SM, Aristoteles pada abad ke-3 SM, dan seorang ilmuwan Arab ibnu al Haitam atau Al Hazen pada abad ke-10 M. Kemudian pada tahun 1558 ilmuwan Itali http://www.britannica.com/eb/topic?idxStructId=470999&typeId=13Giambattista della Porta menyebut “camera obscura” pada sebuah kotak yang membantu pelukis menangkap bayangan gambar.

Awal abad ke-17, Angelo Sala, ilmuwan yang berkebangsaan Italia menemukan proses “jika serbuk perak nitrat dikenai cahaya warnanya akan berubah menjadi hitam”. Selanjutnya berbagai percobaan pun dilakukan. Hingga tahun 1824, seorang seniman lithography Perancis Joseph-Nicéphore Niépce (1765-1833), setelah 8 jam meng-exposed pemandangan dari jendela kamarnya melalui proses “Heliogravure” di atas plat logam yang dilapisi aspal, berhasil melahirkan sebuah imaji yang agak kabur dan berhasil pula mempertahankan gambar secara permanen. Kemudian ia pun mencoba menggunakan kamera obscura berlensa. Maka pada tahun 1826 lahirlah sebuah “foto” yang akhirnya menjadi awal sejarah fotografi.
Merasa kurang puas, tahun 1827 Niépce mendatangi desainer panggung opera yang juga pelukis, Louis-Jacques Mande’ Daguerre (1787-1851) untuk mengajaknya berkolaborasi. Sayang sebelum menunjukkan hasil optimal, Niépce wafat. Baru pada tanggal 19 Agustus 1839, Daguerre dinobatkan sebagai orang pertama yang berhasil membuat “foto yang sebenarnya”: sebuah gambar permanen pada lembaran plat tembaga perak yang dilapisi larutan iodin yang disinari selama satu setengah jam cahaya langsung dengan pemanas mercuri (neon). Proses ini disebut daguerreotype. Untuk membuat gambar permanen, pelat dicuci larutan garam dapur dan air suling.
Di Inggris beberapa bulan sebelumnya, tepatnya 25 Januari 1839, William Henry Fox Talbot (1800-1877) memperkenalkan “lukisan fotografi” yang juga menggunakan camera obscura, tapi ia buat positifnya pada sehelai kertas chlorida perak. Kemudian pada tahun yang sama Talbot menemukan cikal bakal film negatif modern yang terbuat dari lembar kertas beremulsi yang bisa digunakan untuk mencetak foto dengan cara contact print, juga bisa digunakan untuk cetak ulang layaknya film negatif modern. Proses ini disebut Calotype yang kemudian dikembangkan menjadi Talbotypes. Untuk menghasilkan gambar positif Talbot menggunakan proses Saltprint. Gambar dengan film negatif pertama yang dibuat Talbot pada Agustus 1835 adalah pemandangan pintu perpustakaan di rumahnya di Hacock Abbey, Wiltshire – Inggris.
Dan di Indonesia, tahun 1997, saat teknologi digital mulai booming, saya yang mulai menggunakan kamera digital karena tuntutan pekerjaan sebagai profesional fotografi pun, mulai resah. Saya tidak anti digital, tapi saya pikir di dunia pendidikan fotografi lebih baik jika “mengetahui sesuatu dari dasarnya dulu”. Maka berawal dari sukses memotret pagar depan rumah tinggal dengan menggunakan KLJ kaleng susu 800 gram dengan negatif kertas Chen Fu tahun 1997, digelarlah workshop perdana pada tahun 2001 di lokasi pembuangan sampah Bantar Gebang dengan asisten instruktur Ipoel, didukung Galeri i-see, dan disponsori Kedutaan Belanda. Akhirnya, September tahun 2001 terbitlah buku “MEMOTRET dengan KAMERA LUBANG JARUM” terbitan Puspaswara. Saya menyebut pinhole camera dengan sebutan Kamera Lubang Jarum (KLJ) karena konsep dasar inovasinya berbeda. Saya tidak terlalu mempermasalahkan “teknik”, tapi mencoba menularkan “rasa yang mendalam” dengan menggunakan kata kunci khas Indonesia: “secukupnya”. Selanjutnya, digelarlah workshop tour “gerilya” di Jawa, Bali, bahkan Makassar, hingga pada 17 Agustus 2002 berani memproklamirkan KOMUNITAS LUBANG JARUM INDONESIA (KLJI) sebagai komunitas para pemain KLJ.
Sebagai sebuah filosofi KLJI sebenarnya tidak mempersoalkan masalah “kamera”, tapi makna “lubang jarum” lah yang kami garis bawahi. Karena lubang jarum bisa berarti kondisi dimana saat sulit datang bertamu dan pada saat seperti itu kita harus mampu meloloskan diri. Pantas jika Leonardo Da Vinci menyatakan: “Siapa yang akan percaya dari sebuah lubang kecil, kita dapat melihat alam semesta”, karena terbukti KLJ mengajak kita untuk berada dalam suatu ruang yang cukup luas untuk olah pikir, olah rasa dan bahkan olah fisik. Tetapi ruang itu harus kita penuhi dengan aksi-aksi nyata.
Sesungguhnyalah, KLJ menawarkan pemanjaan idealisme yang luarbiasa. KLJ menawarkan seni proses yang sangat melelahkan, tapi juga KLJ bisa sangat mengasyikkan. Mungkin hal itulah yang menggelitik sehingga KLJ bagaikan virus. Sangat pantas jika KLJ di Indonesia digunakan sebagai kendaraan untuk masalah “pendidikan” dan juga masalah “seni”. Ini terbukti saat mengikuti “Gigir Manuk Multicultural Art Camp” bulan september 2002 di Bali. KLJ di terima para seniman Bali dengan tangan terbuka. Malah kami sempat berkolaborasi bersama seniman lainnya seperti seniman lukis, tekstil dan bahkan teater.
Pada buku ke-dua yang diterbitkan Gramedia dalam bentuk majalah edisi Spesial Chip Foto Video bertajuk “RITUAL FOTOGRAFI” pada tahun 2008, saya menekankan bahwa fotografer harus melek digital tapi tetap menggarisbawahi pentingnya ber-KLJ; bahkan pada peluncuran buku tersebut digelar workshop KLJ tingkat lanjut yang selalu dicitakan sejak berdirinya KLJI 6 tahun silam, mencetak foto dengan teknik cetak penemu fotografi, William Henry Fox Talbot, abad 19, Saltprint. Dengan misi melahirkan kreator dan Instruktur yang berkwalitas, juga jika suatu masa bahan KLJ seperti kertas foto, developer, fixer, tidak lagi diproduksi akibat pasar yang berubah menjadi full digital, popularitas KLJ tidak akan lenyap bahkan seperti lahir kembali. Seperti sejarah lahirnya kamera beberapa abad lalu. Bahkan mungkin bisa melahirkan 10 George Eastman “Kodak” versi Indonesia serta bisa mencuri kembali waktu 100 tahun proses penemuan yang “hilang” di dunia fotografi Indonesia.
Tentu sangat ekslusif! Karena hanya orang2 tertentu saja yang mampu membuat bahan KLJ dengan tangan mereka sendiri (handmade). Bagi Indonesia yang kaya akan bahan baku dan orang-orang kreatif, peristiwa seperti itu bukan sebuah khayalan. Membangkitkan kembali proses salt print, albumen print, cyanotype dan banyak lagi, sepertinya bukan masalah besar. Terbukti keterbatasan alat dan bahan yang selama ini menghantui, berubah menjadi kelebihan bahkan pada akhirnya malah menjadi khas daerah. Sebagai misal, karena di Jogja kaleng rokok mudah didapat lahirlah KLJ kaleng rokok, bahkan ditemukan pula KLJ kaleng yang bisa menghasilkan distorsi yang luarbiasa dan ini lahir dan menjadi khas KLJ Jogja. Tapi karena di Malang kaleng susah didapat, maka lahirlah KLJ pralon bahkan lahir pula seorang ahli kamera KLJ kotak tripleks. Dan di jakarta lahir kamera KLJ “pocket” dalam arti sebenarnya, bisa dimasukan ke dalam saku.
Dan jika efek KLJ disebutkan tidak akrab lingkungan, justru hikmahnya adalah kita dapat menyisipkan pesan dan memperkenalkan cara menangani limbah yang ditimbulkan dalam proses fotografi analog dengan benar. KLJ mengajarkan kita menata limbah dan puing dunia menjadi lebih berarti. KLJ mengingatkan kita akan dunia materi yang fana sekaligus menjadi alat untuk pendidikan jiwa, penggemblengan rasa, dan eksplorasi kreativitas bagi para kreator fotografi Indonesia.
KLJ bukan alat yang sempurna tapi kendaraan untuk menjadi sempurna, meski hingga saat ini KLJI masih sarat dengan berbagai ujian, saya tetap yakin, bahwa kita masih ada di jalan yang benar. 

(Ray Bachtiar Drajat)


Ragam KLJ

Kamera KLJ tahun 2001 karya Ray Bachtiar Drajat

Kamera Poket KLJ

Gemma Frisius 1545 Crop

Foto KLJ Pertama karya Ray Bachtiar Drajat: Pagar Rumah Tinggal, 1997

Kuda Kasongan karya Ray Bachtiar Drajat, 2001

Guest House Kebun Raya Bogor


Kamis, 25 November 2010

Kamis, 18 November 2010

mana mana



panitia ku yg cantik" ma ganteng (ha ha ?),
mana nih hasil poto lubang jarum kaliaaaaannn ?? liaat dong hehehehe . scan trus posting yaaaa. wuhhuu . aku kaaan gag ikut pelatihan. huhuhu


kinan-pubdok 

Selasa, 16 November 2010

Pelatihan Lubang Jarum Panitia Holographtion dan KLJ Bandung

             Kamera lubang jarum merupakan suatu teknik fotografi yang terbilang unik. Selain tidak menggunakan lensa, kamera ini pun dapat dibuat secara sederhana dengan memanfaatkan barang-barang yang ada di sekitar kita. Walaupun dewasa ini teknologi semakin canggih, namun masih terdapat segelintir orang yang menghargai lingkungan dan kreatifitas. Itulah sebabnya kini bermunculan banyak komunitas yang mengaku menyukai teknik fotografi lubang jarum ini. Sebut saja Komunitas Lubang Jarum Bandung, salah satu anak dari Komunitas Lubang Jarum Indonesia. Komunitas ini senantiasa memperkenalkan teknik fotografi lubang jarum kepada masyarakat luas melalui berbagai bentuk pelatihan, sehingga tidak jarang banyak masyarakat yang mulai menggandrungi fotografi lubang jarum.

         Dalam rangka Lustrum Himbio Unpad yang ke-10, kami selaku panitia bermaksud mengadakan suatu workshop fotografi lubang jarum yang rencananya akan dilaksanakan pada bulan Febuari, 2011 dengan pembicara Ray Bachtiar (pencetus ide lubang jarum dan pendiri Komunitas Lubang Jarum Indonesia) dan Deni Sugandi (Ketua Komunitas Lubang Jarum Bandung). Acara ini diselenggarakan atas kerjasama Himbio Unpad dan Komunitas Lubang Jarum.

                  Sebagai permulaan, pada hari Jumat, 12 November 2010 diadakan sebuah pelatihan kecil untuk panitia mengenai teknik fotografi lubang jarum. Pelatihan dimulai tepat pukul 10.00 WIB di daerah Cijerah, Bandung, dengan menghadirkan rekan-rekan dari Komunitas Lubang Jarum (KLJ)Bandung, yakni kang Deni Sugandi, kang Benny, kang Gugun dan kang Roni. Pertama-tama dijelaskan dulu apa itu lubang jarum, bagaimana cara memakainya dan seperti apa fungsinya. Penjelasan hanya berlangsung selama 15 menit, dan setelah itu rekan KLJ langsung menerangkan cara membuat kamera lubang jarum. Atas permintaan panitia, kamera lubang jarum yang dibuat berasal dari kaleng bekas. Namun demikian, selain kaleng bekas, kamera lubang jarum juga dapat dibuat dengan bahan dasar kardus atau duplex, bedanya waktu yang dibutuhkan untuk proses pembuatannya lebih lama.

            Pertama-tama dibuat lubang kecil pada bagian tengah kaleng. Setelah itu kaleng diberi pilox (cat) hitam pada bagian dalamnya. Selama menunggu pilox kering, panitia diminta membuat campuran larutan yang akan digunakan dalam proses pencucian foto. Terdapat tiga macam larutan yang dipakai, yakni larutan Developer, larutan air+cuka, dan larutan fixer. Ketiga larutan ini diletakkan pada tiga baki khusus yang berbeda. Setelah proses pembuatan larutan, panitia kemudian digiring ke kamar gelap. Dalam proses fotografi lubang jarum, kamar gelap merupakan komponen yang sangat penting, karena di sinilah terjadi proses pencucian dan pemindahan kertas foto dari dan ke dalam kamera. Kamar gelap dapat dibuat dengan menggunakan lampu merah atau lampu biasa yang dibungkus oleh kertas merah. Selama kegiatan berlangsung di kamar gelap, panitia dilarang keluar-masuk secara sembarangan, karena akan mempengaruhi cahaya yang masuk.

        Setelah pilox kering, panitia pun mulai melubangi suatu kertas aluminium foil khusus dengan menggunakan jarum pentul. Pelubangan dilakukan sekecil mungkin, karena ini akan berpengaruh pada proses pengambilan gambar. Setelah jadi, aluminium foil yang sudah dilubangi pun ditempelkan ke lakban dan akhirnya ditempelkan ke lubang kamera yang sebelumnya sudah dibuat, dengan posisi lubang jarum terlihat dari dalam kamera. Sebagai pembuka dan penutup lubang kamera, ditambahkan pula karton hitam dan karet yang berfungsi mengatur cahaya masuk. Setelah kamera siap, dilakukan proses pemasukan kertas foto ke dalam kamera, dan ini dikerjakan di dalam kamar gelap. Posisi kertas foto yang cenderung kasar seperti kulit jeruk harus menghadap ke lubang kamera, baru kemudian kamera ditutup bagian atasnya (bila menggunakan kaleng, bagian atas kaleng yang terbuka ditutup dengan tutup kaleng).

             Selanjutnya proses pengambilan gambar. Proses ini dilakukan dengan sangat cepat. Kuncinya, kamera ini harus diletakkan di depan objek yang ingin difoto, dalam kondisi diam (tidak bergerak) selama kurang lebih 30 s/d 50 detik (tergantung cahaya matahari). Objek yang dapat diambil hanya berupa objek diam dan apabila ada objek lainnya yang bergerak menghalangi kamera, maka akan terjadi overlapping (penumpukan)gambar yang diambil. Setelah selesai mengambil gambar, kamera langsung dibawa ke kamar gelap. Kemudian dimulailah proses pencucian foto. Dengan menggunakan jepit foto khusus, foto dicelupkan ke dalam tiga larutan (urutan developer - air+cuka - fixer) yang sudah disiapkan dengan durasi waktu yang bervariasi. Di dalam larutan developer, foto dicuci dengan cepat hingga muncul objek gambar yang diinginkan. Dari developer, foto kemudian dipindahkan ke larutan air dan cuka selama 30 detik sebelum akhirnya dipindahkan ke larutan fixer selama 1 menit. Setelah 1 menit, foto kemudian dicuci di air kran sampai permukaan foto berubah kesat (tidak licin lagi).

             Proses selanjutnya adalah penjemuran foto. Proses ini berlangsung di bawah sinar matahari dengan durasi sekiranya foto kering. Objek dalam kamera lubang jarum akan terlihat terbalik dan hanya berupa negatifnya saja. Namun setelah dilakukan pen-scan-an ke dalam PC, maka foto pun akan terlihat jelas dan bagus. Dari sekian banyak foto yang dihasilkan oleh panitia, ada beberapa foto yang memang tampak bagus dan jelas, namun ada juga yang terbakar ataupun kurang jelas. Hal ini dapat disebabkan oleh waktu pengambilan gambar yang terlalu lama atau sebentar, cahaya matahari yang kurang masuk saat pengambilan gambar, proses pencucian yang terlalu lama atau kesalahan saat pemindahan kertas foto.

           Pelatihan berakhir tepat pukul 12.00 WIB. Setelah melakukan evaluasi dan diskusi, panitia pun tidak lupa untuk berfoto dengan rekan-rekan KLJ. Senang rasanya bisa membuat dan memiliki kamera sendiri. Penasaran ingin seperti kami? Makanya datang saat workshop Kamera Lubang Jarum bersama Ray Bachtiar dan KLJ Bandung tanggal 5 Febuari 2011 di Bandung. Sampai ketemu lagi ya!

Salam fotografi!

Ini nih dokumentasi kita saat latihan :)